2026 : KENAPA ZAMAN MODERN MASIH MAIN RAJA-RAJAAN??

Sumber Foto: https://www.democrazy.id/2024/08/sosok-raja-jawa-ini-begitu-dicintai.html 

 Di tengah modernisasi dan demokratisasi, fenomena “raja-rajaan” belakangan ini sering muncul, berawal dari polemik yang terjadi di Kesultanan Surakarta Hadiningrat. Polemik tersebut terjadi setelah wafatnya raja Kesultanan Surakarta. Sri Susuhunan Paku Buwono XIII pada Minggu, 02 November 2025¹. Raja-rajaan dimaknai dalam konteks adat atau tradisional yang mengacu pada penguasa lokal yang memiliki kewenangan kultural, Namun secara administratif, pemerintahan modern tidak memiliki kewenangan penuh².

   Masuk ke dalam sejarah, berdasarkan buku "Hikayat Tanah Hindia"³, terdapat di Hikayat Kerajaan Hindu-Islam Tanah Hindia (Indonesia). Pertama kali kerajaan Hindu muncul dan disahkan di kerajaan Medang Kamulan. Raja Ajisaka atau Keraton Ajisaka disebutkan kerajaan tersebut berada di Blora dan ada yang menyebutkan berada di Prambanan, lalu tersebar sampai Jawa Barat. Raja Islam muncul pada tahun 1354. Raja Malik Saleh berada di Aceh lalu tersebar di Sumatra Barat, Sumatra Tengah, Palembang, Jambi, Minangkabau, hingga Jawa Timur. Singkatnya dua kerajaan itu bertemu dan berperang hingga dikalahkan oleh Senopati dari Jawa Barat sampai Citarum, tetapi dalam pemerintahannya Senopati tidak juga santun karena raja yang ditaklukkannya itu bersikap durhaka kepadanya. Pada akhirnya seluruh tanah Jawa mengusung titah Panembahan Mataram hingga muncul “Hikayat Raja-Raja Mataram”.
   Dalam Hikayat Raja Mataram dari tahun 1719 ditinggalkan oleh Susuhunan Paku Buwono yang digantikan oleh Sunan Prabu. Namun dalam pemerintahannya, Susuhunan tidak diakui raja oleh saudaranya, karena putra Sunan Prabu meninggalkan ayahnya dibujuk oleh pangeran yang berkhianat, dan ternyata tidak semua pangeran sejalan, maka pada tahun 1723 terjadi pertengkaran yang kemudian para pangeran ada yang meninggal setengah dan setengahnya lagi dibuang dari Mataram bersama dua ana Suropati. Pangeran Mangkunegoro putra baginda juga dikembalikan kepada ayahnya yang kemudian Sunan Prabu duduk di atas takhta kerajaan. Pada tahun 1727 diangkatlah seorang pangeran untuk menggantikan raja sebelumnya yang diberi gelar Pakubuwono II. Perselisihan saudara masih sering terjadi terus menerus hingga Mataram tidak aman karena beberapa pangeran berkhianat, terutama Raden Mas Said, yang kemudian Raden Mas Said bersama Pangeran Mangkubumi menyerang Surakarta dengan Mangkubumi menyerang Surakarta dengan membakar sebagian negeri Surakarta tetapi dihentikan oleh gubernur utara dan timur dari Belanda tahun 1746. Tiga tahun kemudian Susuhunan Pakubuwono II sakit parah lalu menyerahkan kerajaan Mataram kepada Belanda karena merasa ajalnya sudah dekat dan akhirnya meninggal. Kemudian diangkatlah oleh kompeni yaitu Pangeran Adipati Anom yang diberi gelar Pakubuwono III. Susuhunan mengakui dirinya di bawah kompeni kekuasaannya, maka di dalam penobatan Adipati Anom sebagai Susuhunan diangkat juga Pangeran Mangkubumi sebagai raja oleh pihak bangsawan yang berselisih dengan beliau. Kemudian Pangeran Mangkubumi memerintahkan pembangunan keraton Ngayogyakarta. Terjadilah peperangan antar dua kubu berlangsung lama. Singkatnya pangeran Mangkubumi dan paku Buwono III tidak ada yg menang dan diambil dengan jalur damai dengan pembagian wilayah mataram yaitu bagian selatan mataram (ngayogyakarta) di kuasai oleh Pangeran Mangkubumi yg di beri gelar Sultan Hamengkubuwana dan bagian utara mataram (Surakarta) di kuasai oleh paku Buwono III yg di beri gelar Kasunanan. Tidak berhenti sampai situ saja raden Mas Said yg kini masih di daerah Surakarta masih memperjuangkan daerah kekuasaan tenggara mataram tetapi dengan kekuatan Sultan Hamengkubuwana dan Susuhunan akhirnya raden Mas Said kalah dan menghadap ke Susuhunan untuk meminta maaf lalu akhirnya raden Mas said di berikan daerah tenggara karesidenan surakarta dan di beri gelar Pangeran Adipati Arya Mangkunegara.
   Dalam menyikapi fenomena raja-rajaan pada zaman modernisasi dan demokratisasi dewasa ini adalah sebuah bentuk simbol pemersatu, pelindung budaya yang tidak terlepas dari sejarah dahulu. Serta polemik yang terjadi di Keraton Surakarta juga tidak terlepas dari panjangnya sejarah yang terjadi terdahulu. Sebagai pemerintah nasional agar tidak terlalu mengambil risiko terhadap polemik tersebut karena pertentangan itu tidak akan dilakukan dengan unsur kekerasan, karena hal itu bukanlah budaya keraton.

Sumber dari :
¹https://id.wikipedia.org 
²https://gusdur.net/ 
³Bergman, F. J. G. Hikayat Tanah Hindia: Sejarah Hindia Belanda dari Zaman Pra-Hindu hingga Abad ke-19




Komentar

Postingan populer dari blog ini

BUPATI KEBUMEN: DIPENGARUHI KEBERUNTUNGAN ATAU KEMAMPUAN DALAM MEMPENGARUHI MASYARAKAT?

Waras Berkarier : Belajar dari Tafsir Jalalain saat dunia mulai menipu

Kontroversi Bab Aurat dalam Kitab Safinatun Najah