Waras Berkarier : Belajar dari Tafsir Jalalain saat dunia mulai menipu
Foto asli
Pernahkah Kita memperhatikan bagaimana atmosfer dunia karier di organisasi/instansi hari ini berputar? Di era hustle culture yang serba cepat ini, kita dikepung oleh narasi pencapaian. Media sosial memamerkan promosi jabatan, kartu nama dengan titel mentereng, hingga ruang karier eksekutif yang mewah. Secara tidak sadar, standar kesuksesan kita bergeser. Berkarier di organisasi bukan lagi sekadar mencari pengalaman, melainkan ajang pembuktian diri untuk kekuasaan. Dalam prosesnya, tidak sedikit orang yang terjebak dalam sindrom "gila jabatan". Demi sebuah kursi kepemimpinan atau pengakuan dari temen karier, etika mulai digeser, sikut sana-sini menjadi lumrah, dan waktu ibadah sering kali dikorbankan dengan alasan "demi profesionalitas". Hal seperti itu ternyata sudah diperingatkan dalam Tafsir Jalalain.
Hal Menarik dalam penafsiran Surah Fatir ayat 5 kitab klasik Tafsir al-Jalalain karya Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi memberikan penjelasan yang sangat menarik. Ketika ayat tersebut berbunyi, فَلَا تَغْرِنَكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا "Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu," Tafsir Jalalain memperjelas bahwa dunia disebut "memperdayakan" karena ia menampilkan keindahan yang menipu. Dunia menyajikan kesenangan yang tampak begitu nyata dan abadi, padahal sifatnya sangat semu, rendah, dan cepat sekali sirna. Jika saya mekorelasikan dengan dunia modern, jabatan adalah salah satu bentuk kesenangan dunia yang paling lihai dalam menipu manusia. Mengapa demikian? Karena jabatan memberikan ilusi kekuasaan, kehormatan, dan kendali. Orang yang terperdaya akan mengira bahwa dengan menduduki posisi tinggi, mereka telah menggenggam kebahagiaan sejati. Padahal, Tafsir Jalalain mengingatkan efek paling berbahaya dari tipuan ini adalah membuat manusia melalaikan amal untuk akhirat. Ketika fokus hidup terkunci pada bagaimana cara naik pangkat, pikiran kita perlahan-lahan menghapus memori tentang kematian dan pertanggungjawaban di masa depan.
"Kewarasan" dalam Berkarier Tanpa sadar, batas antara memiliki ambisi yang sehat dengan "gila jabatan" itu sangat tipis. Kita mungkin perlu memeriksa diri jika tanda-tanda ini mulai muncul :
1. Menghalalkan Segala Cara: Kita mulai menganggap manipulasi politik, menjatuhkan karakter teman sejawat, atau menjilat atasan sebagai strategi kerja yang "wajar".
2. Prioritas yang Terbalik: Waktu untuk menyapa Sang Pencipta dalam sholat selalu berada di urutan terakhir setelah rapat.
3. Kecemasan yang Kronis: Kita tidak pernah merasa puas. Setiap kali melihat orang lain mendapat promosi, ada rasa dengki dan gelisah yang membakar dada.
"Waras Berkarier" untuk Menyelamatkan Akhirat Supaya kita tidak menjadi korban berikutnya dari fatamorgana dunia ini, kita harus punya strategi untuk tetap waras. Berkarier diorganisasi/instansi dengan performa terbaik itu wajib, tetapi menjaga hati agar tidak diperbudak oleh jabatan adalah keharusan. Tafsir Jalalain tidak melarang kita untuk menjadi seorang pemimpin sebuah instansi/organisasi. Islam justru membutuhkan orang-orang saleh untuk menduduki posisi-posisi strategis agar kemaslahatan bisa ditegakkan. Namun, poin utamanya adalah pengendalian hati. Jadikan jabatan itu berada di genggaman tangan kita untuk dikendalikan demi kebaikan dan kemaslahatan, tetap jaga kewarasan dalam berkarier!
Komentar
Posting Komentar